HomeBeritaDinas Pertanian Harapkan Bantuan Jaringan Pompanisasi Meningkat di 2019

Dinas Pertanian Harapkan Bantuan Jaringan Pompanisasi Meningkat di 2019

share

Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa terus berupaya meningkatkan sarana dan prasarana fisik khususnya jaringan pompanisasi dari APBN di tahun 2019 mendatang. Ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian melalui Kabid Sarana Prasarana dan Penyuluhan Pertanian Isnaini, SP. Sistem irigasi perpompaan dengan bantuan pompa dan bak penampung untuk mengaliri air ke sawah itu sangat membantu petani apalagi di musim kemarau. Isnaini menyebutkan, pada Tahun 2018, bantuan pompanisasi ada 17 dan pada tahun 2017 ada 5. “Sementara tahun 2019, ada 60 unit pompa air yang kami ajukan ke pusat melalui APBN, infrastruktur seperti pompanisasi semoga bantuannya lebih banyak dan untuk rehabilitasi jaringan irigasi ada 500 hektar, pembangunan embung 3 unit,” sebutnya. Menurutnya, dukungan untuk pembangunan fisik pertanian alhamdulilah sudah rampung pada APBD tahun 2018, karena termasuk pengerjaan kontraktual seperti Cekdam (embung), sumur dangkal, jaringan irigasi, kantong air perpompaan. Sedangkan yang berasal dari APBN antara lain DAK dan tugas pembantuan dilakukan secara swakelola karena masuk rekening kelompok dan dikerjakan oleh kelompok tani. “Kami juga berharap pada APBD 2019, meski kami tidak bisa berharap banyak karena fokus Pemda ke infrastruktur lain yang lebih besar seperti pasar dan jalan raya, porsi untuk pertanian tetap ada tapi cukup terbatas,” ujarnya. Alat Mesin Pertanian (Alsintan) seperti traktor dan mesin pompa air kita mengharapkan bantuan dari APBN 2019, traktor roda 2 diajukan 2019 50 unit, alat tanam jagung 100 unit, cultivator 10 unit karena itu cukup memabntu petani. Bahkan kemarin saat musim kering, petani ada yang meminjam pompa ke dinas untuk menyelamatkan padi mereka, terutama di wilayah moyo hilir. Lebih jauh sambungnya, pembinaan kelompok tani, pemberdayaan sumber daya petani termasuk kelembagaan petani terus ditingkatkan melalui pelatihan dan kursus tani. Begitu pula dengan sarana prasarana balai penyuluhan pertanian, pada 2018 ada rehab di Kecamatan Moyo Hilir Dan Moyo Hulu. Untuk tahun 2019 belum final karena baru disusun. Disisi lain, distribusi pupuk diharapkan bisa lancar menjelang puncak tanam pada Januari-Februari 2019. Isnaini menjelaskan, pendistribusian pupuk tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Untuk tahun lalu, terasa sekali keterlambatan karena masalah manajemen termasuk manajemen perusahaan produsen, kendala cuaca iklim, armada baik dari kapal pengangkut maupun gudang dan termasuk truk yang mengangkut pupuk. Sementara tahun ini beda, tidak terasa keterlambatan, bahkan tahun ini kita masih mempunyai alokasi pupuk yang lebih besar. “Alokasi pupuk Kabupaten Sumbawa tahun 2018, urea 33,894.16, SP 36 sebanyak 863. 37, ZA 4,746.80, NPK 16. 331, Organik 1500” jelasnya. Jika dibandingkan lebih jauh katanya, tahun kemarin, pada bulan desember sudah mulai masuk puncak tanam artinya petani sangat membutuhkan pupuk, sedangkan untuk musim tanam desember 2018 ini belum, ada pula alokasi lain yang akan dimulai januari-desember 2019. “Harapan kami kepada distributor jangan sampai ada keterlamatan distribusi kepada petani, harga digudang pengecer berlaku harga het, jangan sampai ada engkulak yang mempermainkan harga, kecuali kalau mereka terima dilahan petani maka ada transport dan itu harus dijelaskan kepada petani jangan sampai mematok harga terlalu tinggi dan petani kita menjerit,” katanya. Sementara itu, ada juga Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yakni asuransi yang disediakan pemerintah melalui BUMN ada Jasindo untuk memberkan perlindungan kepada para petani. Isnaini menerangkan bahwa target asuransi diberikan terutama untuk daerah endemis hama penyakit, daerah terkena dampak banjir, daerah yang terkena dampak kekeringan agar petani terlindungi dari kerugian. “Petani harus jadi peserta supaya terlindungi dan mendapat jaminan,” terangnya. Untuk angsuran premi yang dibayarkan cuma 36 ribu per hektar nanti premi klaimnya 6 juta per hektar jika terjadi gagal panen atau musibah banjir atau kekeringan. Cara untuk mendaftar cukup mudah, Isnaini memaparkan petani langsung mengisi blangko dan mengrimkan premi pembayarannya di bank BRI terdekat, kemudian dikirimkan melalui Dinas Pertanian bukti pendaftaran dari dinas ke perusahaan Jasindo (BUMN). “Kendala petani kita belum sadar dan belum merasa khawatir kalau mereka tidak langsung melihat situsi, padahal kami sudah sering sosialisasi, ada kebiasaan masyarakat ketika ada dampak yang mereka lihat langsung baru ikut, sederhana saja sebenarnya cuma 36 ribu perhektar mereka akan terlindungi,” paparnya. Pada tahun kemarin ada di Sumbawa, ada hamper 1000 hekar lebih yang ikut, bahkan ada yang klaim karena terkena kekeringan di wilayah alas. Guna suksesnya program asuransi petani ini, perlu proaktif juga dari teman-teman penyuluh pertanian dilapangan, dapat melakukan sosialisasi, membantu proses administrasi, memberikan pemahaman tentang pentingnya asuransi kepada petani.