HomeBeritaDinas Pertanian akan Kembangkan Tanaman Mete 200 Hektar Sumbawa

Dinas Pertanian akan Kembangkan Tanaman Mete 200 Hektar Sumbawa

share

Guna mengatasi terjadinya banjir kedepan yang melanda dua wilayah Kecamatan Empang dan Tarano, maka sangat perlu segera dibenahi dan perlu ada terobosan kita bersama-sama menghutankan kembali areal kawasan hutan yang gundul, mestinya bukan dengan tanaman hutan tetapi dengan tanaman perkebunan yang bisa dipetik hasilnya dalam waktu singkat, ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa Tarunawan, Sos. SP .

Adapun tanaman perkebunan yang bisa dikembangkan kedepan adalah tanaman MeteĀ  kemudian bisa menanam jagung disela-selanya, dengan luas areal lebih dari 500 Ha dikawasan Empang dan Tarano yang berada pada kawasan yang terlarang sesungguhnya untuk pertanian tanaman pangan, dengan lereng bukit (trashering) memiliki kemiringan lebih dari 15 derajat itu sesungguhnya tidak dipakai untuk tanaman pangan, bisa tetapi dikombinasikan dengan tumpangsari dan tanaman perkebunan seperti tanaman mete dimaksud. Karena itu Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa dalam tahun 2019 mendatang , memprogramkan penanaman dan pengembangan tanaman Mete seluas 200 Ha bantuan dari Kementerian dan sebagian besar program tersebut akan difokuskan sasarannya pada dua Kecamatan Empang dan Tarano, dan bahkan pihaknya mengakui telah dihubungi oleh sebuah perusahaan mete terbesar didunia yang ada di Makasar Sulawesi Selatan dan mereka siap bantu Sumbawa dalam hal pemasaran sehingga tidak perlu khawatir, dimana untuk tanaman mete ini bisa panen dalam waktu tiga tahun dengan panen pertama itu lebih kurang sebanyak 20 Kg dan dia bisa beli dengan harganya Rp 25.000/Kg, lumayan pendapatan Rp 500.000/pohon, kalau sekarang ini kita tanam untuk 1 Ha agar bisa ditanam jagung disela-selanya adalah lebih kurang 100 pohon, jadi bisa jagung menjadikan panen bulanan dan mete setiap tahunnya, jadi kami lebih cenderung kita mengembangkan tanaman perkebunan daripada tanaman hutan, tukasnya. Menurut Tarunawan, tanaman hutan itu kita tahu umurnya panjang baru bisa panen kayu, dan tanaman mete itu sudah banyak yang ditebang karena dulu harga mete itu harganya khan fluktuatif kadang sampai harganya Rp 3.000/Kg, tetapi dengan adanya perusahaan terbesar mete didunia di Makasar itu justru harga mete sekarang ini cukup tinggi, merupakan satu-satunya perusahaan terbesar di Indonesia yang melakukan kegiatan eksportnya keseluruh dunia, disamping pengadaan bibit bawang merah, bawang putih dan tanaman cabe juga diprogramkan pengadaannya untuk tahun depan, ujarnya. Kemudian terkait dengan harapan masyarakat agar jagung itu dibatasi, kamipun sudah bergerak sedang kita susun bersama pihak Bappeda Sumbawa zonasi areal, jadi nanti ada areal tertentu yang tidak boleh melakukan penanaman jagung dan hal itu sedang dipersiapkan itu, seperti contoh daerah Batulanteh karena itu daerah hulu yang merupakan daerah pengembangan lebah madu, dan itu sangat-sangat peka terhadap yang namanya herbisida maupun pestisida, jadi saat ini sedang dibuatkan zonasi areal dan mana daerah yang boleh dan tidak ditanami jagung, sehingga nanti dengan adanya bantuan Pemerintah kita arahkan kepada zonasi areal yang diperbolehkan saja, kata Tarunawan. Sedangkan terhadap pelaksanaan berbagai program dan pembangunan bidang Pertanian (pembangunan fisik dan non fisik) tahun anggaran 2018 yang menyerap anggaran APBD maupun bantuan Pusat mencapai sekitar Rp 50 Miliar seperti pengadaan bibit bawang merah, bawang putih dan tanaman pangan lainnya, kegiatan pembangunan sumur bor dan cekdam sejauh ini progress fisiknya diatas 95% lebih dan kendati masih ada lima paket fisik proyek yang belum tuntas pembuatan laporan administrasinya tetapi optimis sebelum masa anggaran berakhir (Clossing Dead) 20 Desember mendatang sudah rampung dan dapat dituntaskan semuanya dengan baik sebagaimana yang diharapkan, pungkas Tarunawan.